Bahaya Mie Instant: Usus Dipotong dan Kanker

Posted on Agustus 21, 2009 by Admin

Banyak anak kecil yang suka mie instan. Kadang selain tiap hari, bisa jadi mereka makan mie instan 2 kali atau bahkan selalu makan mie instan. Ini karena rasa mie instan yang gurih sekali karena memakai berbagai bumbu yang tak jarang berbahaya bagi kesehatan seperti MSG, perasa buatan sehingga rasanya jadi seperti rasa ayam, sapi, bakso, dsb, pengawet buatan, dan sebagainya.

Di tabloid Nova dikisahkan seorang anak yang bernama Hilal ususnya harus dipotong karena kebanyakan makan mie instan.

Sebaiknya jangan biarkan anak makan mie instan. Jika pun harus, masaklah air yang banyak. Sisihkan sebagian air untuk kuah dan masukan ke piring. Setelah itu baru masukan mie. Buang air rebusan mie (jangan dimakan). Bumbu cukup separuh dan perbanyak airnya hingga penuh agar bumbunya jadi hambar.

Memang jadinya kurang begitu enak. Tapi itu lebih baik ketimbang usus harus dipotong seperti kasus anak di bawah ini.

Usus Dipotong akibat Kebanyakan Mi Instan

Jumat, 21 Agustus 2009 | 12:38 WIB

Laporan wartawan NOVA Ester Sondang

MAKSUD hati membantu suami menambah penghasilan, apa daya anak jadi korban. Akibat kerap meninggalkan buah hatinya, Hilal Aljajira (6), Erna Sutika (32) kini harus menelan pil pahit. Usus Hilal bocor dan membusuk hingga harus dipotong. Rupanya tiap hari Hilal hanya menyantap mi instan karena di rumah tak ada orang yang memasakkan makanan untuknya. Berikut cerita Erna.

Saat usia Hilal menginjak 2 tahun, aku memutuskan bekerja, membantu keuangan keluarga mengingat

penghasilan suamiku, Saripudin (39), kurang mencukupi kebutuhan keluarga.

Aku bekerja di perusahaan pembuat bulu mata palsu, tak jauh dari rumah kami di Garut. Setiap berangkat kerja, Hilal kutitipkan kepada ibuku. Di situ, ibuku kerap memberinya mi instan. Bukan salah ibuku, sih, karena sebelumnya, aku juga suka memberinya makanan itu jika sedang tidak masak.

Ternyata, Hilal jadi “tergila-gila” makanan itu. Ia akan mengamuk dan mogok makan jika tak diberi mi instan. Ya, daripada cucunya kelaparan, ibuku akhirnya hanya mengalah dan menuruti kemauan Hilal. Lagi pula, kalau tidak diberi, Hilal pasti akan membeli sendiri mi instan di warung dekat rumah dengan uang jajan yang kuberikan. Praktis, sehari dua kali ia makan mi instan.

 

Dua kali dipotong
Kamis, 20 November 2008, Hilal mengeluh sakit perut. Kupikir sakit biasa. Anehnya, setelah tiga hari, sakitnya tak kunjung hilang dan ditambah ia tidak bisa buang air besar. Gara-gara itulah perutnya membesar.

Khawatir, kubawa Hilal ke mantri dekat rumah. Karena tetap tidak ada perubahan, kami kemudian membawanya ke RSU Dr Slamet, Garut. Ternyata hasil pemeriksaan dokter lebih menyeramkan dari yang kuduga. Kupikir, cukup dengan obat pencahar perut, sakit Hilal bisa segera sembuh. Rupanya tak segampang itu.

Hasil tes darah dan rontgen memperlihatkan, Hilal harus segera dioperasi karena beberapa bagian di ususnya bocor dan membusuk. Ketika kutanyakan apa penyebabnya, dokter menjawab, akibat dari kandungan makanan yang Hilal konsumsi selama ini tidak sehat dan membuat ususnya rusak. Saat itulah kutahu Hilal terlalu sering menyantap mi instan. Astagfirullah….

Atas rujukan dokter, kami kemudian membawa Hilal ke RS Hasan Sadikin, Bandung, dengan alasan peralatan medis di RS itu lebih lengkap. Sejak awal, tim dokter sudah pesimistis dengan kondisi Hilal yang begitu memprihatinkan dengan berat badan yang tidak sampai 11 kg. Dokter juga bilang, dari puluhan kasus serupa, hanya tiga orang yang bertahan hidup. Aku hanya bisa berserah pada Allah SWT.

Baru pada 25 November 2008 operasi dilakukan di RS Immanuel, Bandung. Saat itu aku sedang hamil tiga bulan. Dokter mengamputasi usus Hilal sekitar 10 cm. Untuk menyatukan bagian usus yang terputus itu, dokter menyambungnya dengan usus sintetis. Selain itu, dokter juga membuat lubang anus sementara (kolostomi) di dinding perut sebelah kanan.

Utang belum lunas
Ternyata cobaan kami belum berakhir sampai di situ. Tiga hari kemudian, dokter menemukan masih ada bagian usus yang bocor. Mau tidak mau, Hilal harus kembali naik ke meja operasi dan merelakan sebagian ususnya lagi.

Jelas, aku dan suami sangat ingin Hilal sembuh. Namun, di sisi lain, penghasilanku sebagai buruh tidaklah seberapa. Setiap bulan, aku hanya bisa membawa pulang uang Rp 250.000 atau Rp 300.000 kalau lembur. Adapun suamiku penghasilannya tidak pernah menentu. Maklum, ia hanya kuli kasar di pabrik tahu di Bandung.

Sejak Hilal jatuh sakit, aku memutuskan berhenti bekerja. Alhasil, suamiku harus banting tulang mengerjakan pekerjaan apa pun asal menghasilkan uang. Kendati sudah bekerja begitu keras, rasanya sia-sia saja. Biaya operasi Hilal yang mencapai Rp 16 juta terasa begitu besar dan entah kapan bisa dilunasi. Apalagi, kami hanya punya waktu 10 hari untuk melunasinya. Untung pihak rumah sakit berbaik hati memberi kelonggaran waktu dua hari sehingga kami masih sempat meminjam uang ke beberapa keluarga dan tetangga.

Demi kesembuhan Hilal pula, kami harus lebih berhemat. Rumah kontrakan kami tinggalkan dan kami menumpang di rumah orangtuaku. Sebenarnya uang kontrakan rumah itu tidak terlalu besar, hanya Rp 300.000 per tahun, tapi tetap saja uang sebesar itu sangat berarti untuk biaya pengobatan Hilal.

Kata dokter, kolostomi di perut Hilal sudah bisa ditutup setelah tiga bulan. Namun, baru setelah delapan bulan kemudian, tepatnya 23 Juli 2009, operasi penutupan dilakukan. Apalagi kalau bukan masalah biaya. Itu pun bisa dilakukan karena kami dapat bantuan dari sebuah stasiun televisi swasta sebesar Rp 14 juta.

Baca selengkapnya di:

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/21/1238313/Usus.Dipotong.akibat.Kebanyakan.Mi.Instan.1

http://www.consumer.org.my/food/nutrition/392-stay-away-from-instant-noodles-to-keep-healthy

The Consumers Association of Penang (CAP) calls on consumers to avoid eating instant noodles as it is harmful to health. Studies have shown that the consumption high sodium content in instant noodles is linked to a variety of diseases such as hypertension, heart disease, stroke and kidney damage.
In 2004 Malaysians consumed 870 million packets of instant noodles but by 2008 it had increased to more than 1210 million packets. This is an increase of nearly 40 percent during the period of 4 years.
Instant noodle is a highly processed food that lacks nutritive value. It is a junk food. Every single serving of instant noodle is high in carbohydrates, sodium and other food additives, but low on essential elements such as fibre, vitamins and minerals.

According to the Codex Standards (FAO standards) for instant noodles, acid regulators, flavour enhancers, thickeners, humectants, colours, stabilizers, anti-oxidants, emulsifiers, flour treatment agents, preservatives and anti-caking agents – are allowed to use in the making of instant noodles.

24 of the 136 listed additives in the Codex Standards are sodium salts. And the use of sodium additives is the main reason why instant noodles are high in sodium. High sodium foods can cause hypertension, heart disease, stroke, kidney damage and other health problems.

Tests conducted by CAP on 10 samples of instant noodles found three samples to contain sodium above 1,000 mg. The average amount of sodium found in the samples was 830 mg. According to the current US Recommended Dietary Allowance (RDA) of sodium for adults and children over 4 years old is 2400 mg/day. The consumption of instant noodles can easily cause excessive sodium intake as sodium is commonly used in our other daily foods especially from processed and hawker’s food.

Another health concern is the reported leaching of dioxin and other hormone-like substances from the plastic container of the cup noodle. As hot water is added harmful substances could seep into the soup.

One of the major concerns of instant noodle is that it can produce oxidised fat and oil if it is not managed properly during the manufacturing process. This is of concern if the cooking oil is not maintained at the proper temperature or the oil is not changed as often as necessary.

Instant noodles are coated with wax to prevent the noodles from sticking together. This can be seen when hot water is added to the noodles. After some time the wax can be seen floating in the water.

The Codex Standards also allow the use of 10,000 mg/kg of the chemical propylene glycol – an anti-freeze ingredient as humectants (helps to retain moisture to prevent noodles from drying) in instant noodles. Propylene glycol is readily absorbed and it accumulates in the heart, liver and kidneys causing abnormalities and damage. The chemical is also capable of weakening the immune system.

Instant noodles and the flavouring soup base also contain high amounts of monosodium glutamate (MSG). It is a flavour  enhancer used by instant noodle makers to make their shrimp flavours ”shrimpier” and beef flavours “beefier”. MSG can trigger an allergic reaction in 1 to 2 % of the population. Individuals who are allergic to MSG can get burning sensations chest and facial flushing or pain and headaches from it.

High sodium consumption is linked to stroke or kidney damage. In Malaysia, there are an estimated 13,000 kidney patients undergoing dialysis. Every year 2,500 people join the ranks of end-stage renal failure patients. Six new cases of stroke occur every hour in Malaysia.

Some of the chemicals found in instant noodles are also capable of causing cancer, for example, dioxin and plasticisers leached from the containers in the presence of hot water.  According to the World Health Organisation (WHO) at least 30 percent of all cancers could be prevented through simple measures such as adopting a healthy diet.  Instant noodles are definitely an unhealthy diet which consumers should avoid.

In view of its unhealthy nature, the Consumers Association of Penang calls on the Ministry of Health to launch a campaign to highlight the dangers of instant noodles which is a popular food among Malaysians.

For the sake of their health consumers should opt for more wholesome food.

==

Health concerns

Instant noodles are often criticized as being unhealthy or junk food. A single serving of instant noodles is high in carbohydrates but low in fiber, vitamins and minerals. Noodles are typically fried as part of the manufacturing process, resulting in high levels of saturated fat and/or trans fat. Additionally, if served in an instant broth, instant noodles typically contain high amounts of sodium. The current U.S. Recommended Dietary Allowance of sodium for adults and children over 4 years old is 2,400 mg/day. Some brands may have over 3,000 mg of sodium per package in extreme cases. Instant noodles and the flavoring soup base also contain high amounts of monosodium glutamate.
http://en.wikipedia.org/wiki/Instant_noodles

LINDUNGI KELUARGA DAN DIRI ANDA DARI MIE INSTAN…!!!

sumber : dari milis

Para penggemar Mi Instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak 3(tiga) hari setelah Anda mengkonsumsi Mi Instan, jika Anda akan mengkonsumsinya lagi. Dari Informasi kedokteran, ternyata terdapat lilin yang melapisi mi instan. Itu sebabnya mengapa Mi Instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak. Konsumsi Mie Instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker.

Seseorang, karena begitu sibuknya dalam berkarir(bekerja) sehingga tidak punya waktu lagi untuk memasak,sehingga diputuskannya untuk mengkonsumsi Mi Instan setiap hari. Akhirnya dia menderita kanker. Dokternya mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam Mi Instan tersebut. Dokter tersebut mengatakan bahwa tubuh kita memerlukan waktu lebih dari 2 (dua) hari untuk membersihkan lilin tersebut.

Ada seorang pramugari SIA (Singapore Air) yang setelah berhenti dan kemudian menjadi seorang ibu rumah tangga, tidak memasak tetapi hampir selalu mengkonsumsi Mie Instan setiap kali dia makan. Kemudian akhirnya menderita kanker dan meninggal.

Ada kisah yang mengerikan :

* Ada orang yang sekarang usianya sekitar 48 tahunan tapi sudah 4 tahun terakhir ini kemana-mana membawa alat, maaf, sebagai pengganti anusnya, karena usus bawah sampai dengan anus telah dipotong sebab sudah tidak bisa dipakai lagi pasalnya waktu mahasiswa dengan alasan ekonomi mengkonsumsi mie instant secara berlebihan sehingga bagian usus yang dipotong tersebut adalah tempat mengendapnya bahan pengawet yang selalu ada di setiap mie instant mungkin sejenis borax pengawet untuk mayat (data menunjukan bahwa import borax dan sejenisnya sangat besar ke Indonesia) dan walhasil menimbulkan pembusukan ditempat tersebut, semoga semua pihak berhati hati dalam mengkonsumsi makanan seperti bakso, sosis, mie dll

* Ada lagi, orang yang pernah kena kanker getah bening (8 kelenjar getah bening kena), dan berobat selama hampir 1 tahun di Singapore menghabiskan lebih dari 1 Milyar pada tahun 1996 sampai 1997 (untung ditanggung kantor), akibat dia mengkonsumsi indomie plus korned selama 4 tahun terus menerus setiap hari(dengan alasan karena istrinya sibuk kerja). Menurut dokter yg mengobati nya, penyebab utamanya adalah pengawet yg ada di indomie dan korned tsb.

Baca selengkapnya di:

http://lecturer.eepis-its.edu/~tessy/index.php?option=com_content&task=view&id=44&Itemid=2

Mie Instan = Mie Kanker

Ada seorang pramugari SIA (Singapore Air) yang setelah pindah dari rumah ortunya ke rumahnya sendiri.tidak memasak tetapi hampir selalu mengkonsumsi mi instan setiap kali dia makan. kemudian akhirnya menderita kanker dan meninggal karenanya.

saat ini mie instan disebut – sebut sebagai “mi kanker..!!”

http://info-utama.blogspot.com/2009/05/bahaya-mie-instan.html

There was also an SIA steward who after moving out from his mother’s house into his own house, did not cook but ate instant noodles almost every meal. He had cancer, and has since died from it. Nowadays the instant noodles are referred as “cancer noodles”.

http://www.breakthechain.org/exclusives/noodles.html

Bahan-bahan Mie Instan yang harus diwaspadai

Bahan-bahan lain yang harus diwaspadai adalah :

1. Bumbu dan pelengkap

Bumbu yang digunakan antara lain adalah MSG atau vetsin. Titik kritisnya adalah pada media mikrobial, yaitu media yang digunakan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme yang berfungsi memfermentasi bahan baku vetsin. Sedangkan bahan pelengkap mie instan adalah bahan-bahan penggurih yaitu HVP dan yeast extract. HVP atau hidrolized vegetable protein merupakan jenis protein yang dihidrolisasi dengan asam klorida ataupun dengan enzim. Sumber enzim inilah yang harus kita pertanyakan apakah berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme. Kalau hewan tentu harus jelas hewan apa dan bagaimana penyembelihannya. Sedangkan yeast extract yang menjadi titik kritis adalah asam amino yang berasal dari hewan.

2. Bahan penambah rasa

Bahan penambah rasa atau flavor selalu digunakan dalam pembuatan mie instan. Bahan inilah yang akan memberi rasa mie, apakah ayam bawang, ayam panggang, kari ayam, soto ayam, baso, barbequ, dan sebagainya. Titik kritis flavor terletak pada sumber flavor. Kalau sumber flavor dari hewan, tentu harus jelas jenis dan cara penyembelihannya. Begitupun flavor yang berasal dari rambut atau bagian lain dari tubuh manusia, statusnya adalah haram.

3. Minyak sayur

Minyak sayur menjadi bermasalah bila sumbernya berasal dari hewan atau dicampur dengan lemak hewan.

4. Solid Ingredient

Solid ingredient adalah bahan-bahan pelengkap yang dapat berupa sosis, suwiran ayam, bawang goreng, cabe kering, dan sebagainya. Titik kritisnya tentu pada sumber hewani yang digunakan.

5. Kecap dan sambal

Kecap dan sambal pun harus kita cermati lho. Kecap dapat menggunakan flavor, MSG, kaldu tulang untuk menambah kelezatannya.

Baca selengkapnya di:

http://zigma.wordpress.com/2006/12/19/di-balik-gurihnya-mie-instan/

DIarsipkan di bawah: Kesehatan, Makanan | Ditandai: ,

Be the first to like this post.

96 Tanggapan – tanggapan

  1. dira, di/pada Agustus 21, 2009 pada 8:02 am Dikatakan: r

    Waduh, yg dewasa juga masih suka nih..

  2. Terima kasih infonya semoga sangat berguna untuk para blogger

  3. duh, saya juga sering makan mie mie an

    ==========================================
    Blog Jelek sumpah, jangan diklik!

  4. temon, di/pada Agustus 24, 2009 pada 7:59 am Dikatakan: r

    wewww..
    naudzubillah

  5. yuli, di/pada Agustus 27, 2009 pada 12:54 am Dikatakan: r

    aku juga suka, abis gurih sih..bikin ketagihan gitu
    klo mie ayam dan mie bakso gmn? apa meinya ngandung borax juga?

  6. yuan, di/pada Agustus 27, 2009 pada 2:40 am Dikatakan: r

    thx buat blog nya. sangat memberkati. satu lagi, entah dgn alasan apa, mie instan sangat memacu maag. saya sendiri penderita maag akut, stlh makan mie instan pasti langsung kambuh. buat yg lainnya, berhati2lah unt kesehatanmu. ^^o

  7. Kalau saya sih biasanya kalau perut sedang tidak kuat, dan makan mie instan jadi sakit perut…

    Kalau Mie ayam perhatikan sambal dan saos sambalnya. Bisa bikin sakit perut juga kalau perut tidak kuat. Lebih baik sedikit saja kemudian kuahnya dibanyakin sampai penuh agar bumbunya tidak tajam.

    Kalau Bakso tergantung tukang baksonya. Ada juga yang pakai borax/formalin biar baksonya kelihatan putih, awet, dan kenyal.

  8. DWI SANTOSO, di/pada Agustus 29, 2009 pada 8:23 am Dikatakan: r

    Harusnya pemerintah melalui BPOM lah yang paling bertanggung jawab atas semua iniu

  9. PHOCEL, di/pada Agustus 31, 2009 pada 12:32 am Dikatakan: r

    KENAPA PERUSAHAAN MIE INSTANT GAK DITUTUP AZ,MALAH BERTAMBAH BANYAK……….

  10. lila, di/pada Agustus 31, 2009 pada 1:18 am Dikatakan: r

    memang,back to nature lebih baik.so,masak sendiri aja!

  11. VERA VIJI, di/pada September 1, 2009 pada 4:39 am Dikatakan: r

    Harusnya ada kewajiban bagi semua produsen mie instant untuk memebri tahukan dampak buruk yang akan diterima konsumen kalau mengkomsumsi mie instant terlalu banyak ( setiap hari ! ).

    Sama seperti produsen rokok yang wajib memebri sticker peringatan ” merokok dapat menyebabkan kanker” pada setiap bungkus rokok…

    namun yang saya lihat malah iklan mie instant sangat tidak mendidik :saya pernah melihat ada iklan di tv yang memberi contoh jelek makan mie instant setiap hari dalam keluarga , mulai dari hari senin , selasa ,rabu…etc…
    menyedihkan memang…..

  12. gogon, di/pada September 1, 2009 pada 3:24 pm Dikatakan: r

    mungkin tulisan di http://www.cancerhelps.com/pola-hidup-sehat.htm bisa bermanfaat.

  13. Suroso, di/pada September 8, 2009 pada 12:07 pm Dikatakan: r

    Thanks atas infonya ini sngat bermanfaat banget

  14. Suroso, di/pada September 8, 2009 pada 12:17 pm Dikatakan: r

    Oiya ada pertnyaan neh..Kalau mie ayam kan terbuat dari tepung itu gimana,apa sebahaya mie instan.Tlong jawabannya dan kirim ke email saya ya.Makasih..

  15. Kalau untuk Mie Ayam yang harus diwaspadai adalah MSG/Mecin, Saos Sambal, dan sambalnya. Kalau bisa tidak pakai MSG sementara Saos dan Sambal sedikit saja serta kuahnya diperbanyak hingga penuh agar ketajaman bumbunya berkurang. Jika tidak, anda bisa sakit perut.

    Mie Ayam apalagi yang keliling itu kualitasnya bervariasi. Lihatlah apakah gerobaknya dan makanannya terlihat bersih atau kotor.

  16. klinikpediatri, di/pada September 10, 2009 pada 6:14 pm Dikatakan: r

    USUS DIPOTONG KARENA BANYAK MAKAN MI INSTANS ADALAH BERITA TIDAK ILMIAH. Kalaupun pendapat itu yang mengeluarkan seorang dokter, tetap saja berita tersebut tidak ilmiah dan harus lebih dicermati. MI instan sebenarnya relatif tidak seberbahaya seperti yang digembar-gemborkan. Penyebab usus dipotong sangat banyak, dan kalaupun untuk memastikan apakah penyebabnya karena mi tidak semudah itu. Jangan sampai informasi berita berlebihan bukannya mendidik malah menyesatkan.

    Justru mi yang harus diwaspadai adalah mi basah yang dijual di pasar tradisional dan abang-abang bakso, alasannya home industri seperti itu pengawasannya sangat lemah, pemakaian bahan pengawet dan pewarna seperti boraks dan lain-lain tidak bisa dikontrol,

    Sedangkan mi instan terjamin karena sudah dibawah pengawasan balai pom. Isu tentang mi mengandung lilin dan pengawet tidaklah benar. Sedangkan menurut WHO, MSG sebenarnya dalam jumlah yang tidak berlebihan tidak dilarang dan tidak berbahaya.Seringkali para klinisi juga mengeluarkan statement yang berlebihan tanpa dasar ilmiah atau bukti ilmiah. Kalaupun ada bukti ilmiah yang benr memang harus diungkapkan ke masyarakat, kalau hanya dugaan tanpa bukti ilmiah sebaiknya akan meresahkan masyarakat.
    Memang benar beberapa individu tidak semua orang, khususnya penderita seliak atau autism sebaiknya tidak boleh mengkonsumsi mi karena bukan maalah MSG atau pengawet tetapi karena mi mengandung terigu. Terigu adalah merupakan pantangan yang utama bagi penderita saluran cerna seperti seliak dan autism. Jadi, bagi andayang bukan penderita Autism dan seliak sejauh ini masih aman untuk mengkonsumsi mi instan. Dr Widodo Judarwanto SpA

  17. megaloman, di/pada September 15, 2009 pada 11:08 pm Dikatakan: r

    pernyataan mengenai mie instan yg berbahaya; air rebusan, jeda makan mie 3 hari, kanker, usus dipotong dll sudah bertahun2 yang lalu saya dengar dan diperingatkan oleh orang2 di sekitar saya. kemudian dibantah oleh beberapa orang di forum yang mengatakan bahwa itu semua HOAX.

    kali ini saya meragukan kembali ke-HOAX-an itu, karena beritanya samapai masuk kompas, namun sekali lagi… saya tidak bisa percaya begitu saja apa yg saya dengar dan baca dari pihak ketiga, belum lagi bukti2 empiris, penelitian mengenai mie instan belum pernah saya baca hasilnya.

    kesimpulannya????? selama peraturan dan hukum dikendalikan dengan uang, tidak ada satupun pernyataan yang bisa dipercaya.

  18. rika, di/pada September 16, 2009 pada 12:02 am Dikatakan: r

    waduh aku jd takut nh makan mie,soalnya badab pom kn pernah kelolosan juga waktu kasus susu n biskuit merek tertentu.mngkn j x ni mreka lengah lg jd ny lwat deh yang kya bermasalah ni,emang lbh baik masak sendiri ch ya,smoga ibu” yg lain membaca ni agar ananya tidak dibri makanan mie instan lg.

  19. Nuhung, di/pada September 20, 2009 pada 7:26 am Dikatakan: r

    Seharusnya yang bertanggung masalah mie instan berbahaya adalah pemerintah dalam hal ini BPOM, begitu gampannya membuat makanan yang tidak sehat di Indonesia. sarang saya pada rekan-rekan sebaiknya jangan terlalu banyak menkonsumsi mie instan atau di yang diberi bahan pengawet, makanya sekarang ini timbul macam-macam penyakit

  20. wpping, di/pada September 25, 2009 pada 2:04 pm Dikatakan: r

    bahaya juga mie instant..tp enak loh…hahaha2x

  21. Untuk ada penelitian ilmiyah, paling tidak harus menggaji 10 ilmuwan/doktor untuk melakukan penelitian selama 1 tahun (12 bulan). Jika masing2 ahli gajinya rp 10 juta/bulan, maka untuk 10 ahli perlu rp 100 juta per bulan atau rp 1,2 milyar setahun. Belum sewa gedung, laboratorium, relawan untuk kelinci percobaan, dsb.

    Pemerintah saja belum tentu mau repot membuat “penelitian ilmiyah” tsb. Apalagi perusahaan mie yang hasilnya boleh jadi merugikan mereka.

    Yang jelas saya sudah sering membaca artikel bahwa msg, pengawet buatan (kimia), dan juga perasa dan pewarna buatan sering mengandung zat yang berbahaya.

    Kira2 sudah 300 mie instan yang saya makan. Kira2 50%nya berakhir dengan sakit perut. Kalau malam makan mie instan, kemudian besok paginya makan mie instan lagi, kemungkinan sakit perut bisa 70% lebih.

    Jika tidak percaya, silahkan coba sendiri atau bayar ilmuwan buat melakukan penelitian “Ilmiyah”….:)

    • boshido, di/pada April 29, 2010 pada 12:38 pm Dikatakan: r

      teman saya keja di bag QC indomie sudah 19 tahun. salah satu tugasnya di QC adalah mencicipi mie hsl produksi mungkin hampir 2 mangkuk sehari. apa yg terjadi???

      dia tetap sehat kok

      apalagi kalo dia shift malam, jam 11 malam makan mie hampir 2 mangkuk, lalu paginya sebelum pulang dia makan satu mangkuk lagi.

      yg jelas mie instan bisa awet bukan karena adanya bahan pengawet, melainkan karena digoreng pada suhu tinggi sampai kering.

  22. Harry, di/pada September 28, 2009 pada 10:59 am Dikatakan: r

    Tuch dengerin tuch yg sk mam mie, q jg swebel ma mie gr2 ceQ sk skt prut krn ga mw ngln mam mie….sweeeebweeeel deeh

  23. eka dian mayasari, di/pada Oktober 2, 2009 pada 12:21 pm Dikatakan: r

    saya menyesal banget karena terlalu banyak makan indomie.. saya sekarang jadi sakit “kanker payudara” dan apabila saya makan maka kambuh lah penyakit kanker saya.. jadi bagi sobat semua jauhilah makanan berbahaya ini.. dari pada menyesal nantinya..

  24. Mamank, di/pada Oktober 6, 2009 pada 11:12 am Dikatakan: r

    Nyang jelas kalo makan jangan berlebih2an.. itu kuncinya.!
    Mau makan apa aza kalo kebanyakan mesti gak sehat.
    Ingat Boz makanlah zelagi laper dan berhenti sebelum kenyank.

    Dan kalopun gak biza menghindari mie instan, mendingan perbanyak puaza senin kamiz. Banyak gunanya boz.. yang pertama memberikan jeda setelah makan Mie esoknya kita puaza agar lilinnya dicerna dan bersih, kedua Otomatiz dunk dapet pahalanya juga,, dan yang ketiga ini nyank penting..sekalian ngirit biaya biar mienya gak cepet abiz (heheh saran buat anak Kos nyak?!).

    walauBagaimanafun Kita meski banyak berzyukur Bos..

    Bravo

  25. gugug, di/pada Oktober 24, 2009 pada 1:55 pm Dikatakan: r

    miauw miauw
    mau makan mie uenaakkkk thenan

  26. nichaaa, di/pada Oktober 25, 2009 pada 10:03 am Dikatakan: r

    duuuuuuuu!!!!!
    thank bet bwad informasi.a…………………………?
    jd taqudddddddddddddddddd ??????????

  27. ijun, di/pada Oktober 27, 2009 pada 6:24 pm Dikatakan: r

    kalo mie instan pake sayur?? gpp kan mas?

  28. wah……..mie makana faforitku………..wah……..yg enak2 merugikan

  29. Jajang Efendi, di/pada November 12, 2009 pada 5:08 am Dikatakan: r

    Menanggapi pendapat temen2 bloger, saya setuju dengan pendapat . ” Dr Widodo Judarwanto SpA ” ( 10 sept 09 ).
    Betul bahwa kasus itu semua tidaklah ilmiah, pasalnya saya yang sekarang berumur 24thn pengkonsumsi mie instant mulai dari umur 5 thn sampai sekarang, dan alhamdulillah tidak terjadi apa2 dengan kesehatan saya.
    Saya pun sebenarnya bingung, bahwasanya dari kecil saya tidak pernah makan NASI, bila di paksakan malah keluar lagi. berawal dari itu lah saya menjadi pengkonsumsi mie instant.
    Sebelumnya saya pernah periksa kesehatan, dan dokter yang bersangkutan menerangkan pada saya bahwa kesehatan saya baik2 saja, dan tidak ada hal2 ganjil.
    Aneh memang, tapi mau gimana lagi???…makan nasi gak bisa. heuheu

    mungkin ada temen bloger yang lebih mengerti tentang kesehatan dan memberi masukan pada saya.

    Hidup mie INSTANT !!!

  30. @Jajang: pengalaman anda makan nasi malah muntah dan makan mie malah sehat (jika betul) tidak bisa digeneralisir bahwa makan mie itu sehat dan makan nasi muntah…:)

    Coba berapa banyak dari para pembaca di sini yang makan nasi muntah dan makan mie terus malah sehat?

    Pengalaman yang lain habis makan mie sering sakit perut/mencret walau pun tidak harus memanggil para ilmuwan buat bikin penelitian harusnya jadi perhatian kita semua.

    Pendapat dokter yang menyatakan bahwa anak itu dipotong ususnya karena infeksi akibat makan mie tiap hari juga tidak bisa divonis salah begitu saja. Toh dokter itu yang telah memeriksa pasiennya. Bukan kita.

    Terserah pada para pembaca mana yang benar. Minimal kita bisa lebih hati-hati2.

  31. Sebener’y gag bahaya klo gag terlalu sering..
    Klo memang bahaya pasti mie instant gag dpt ijin dari departemen makanan untuk di pasarkan..

    Sesuatu yg berlebihan itu tdk baik..
    : )

  32. Enos Adiguno, di/pada November 19, 2009 pada 6:48 am Dikatakan: r

    Mmg sih mieny enak tp bhyny bsr jg ya

  33. ahsan nawawi, di/pada November 19, 2009 pada 12:31 pm Dikatakan: r

    tapi walau begitu pemilik pabrik mie jga ga bisa di salahkan yach??? khan konsumen jga sudah tahu bahaya makan mie instan, tapi tetep saja makan.

  34. rrj, di/pada November 25, 2009 pada 2:52 pm Dikatakan: r

    mie instannya dimasak pake telor, cabe rawit (warna orange) dipotong kecil2x terus diawurin emping deh, rasanya mantab surantab. Thanks.

  35. Wong Deso, di/pada November 29, 2009 pada 5:39 pm Dikatakan: r

    buat bpk ” Dr Widodo Judarwanto SpA ” ( 10 sept 09 )

    kasus yg kena tumor kanker dll sudah banyak pak gara-gara indomie dan MSG
    dibayar berapa pak dokter sama PT indomie….????

  36. @Wong Deso: Beda Mie Instan dengan Mie Tradisional adalah:

    Mie Instan:
    1. Pakai pengawet (zat kimia) sehingga tahan berbulan2.
    2. Bumbunya pakai penyedap (MSG), perasa, dan pewarna buatan

    Mie Tradisional:
    1. Tidak pakai pengawet buatan
    2. Bumbunya bisa kita buat sendiri dari bahan alami (bawang, garam, dsb).

    Dari situ saja kita bisa membedakan mana yang banyak pakai zat kimia yang tentunya bisa mengganggu kesehatan dan mana yang tidak.

    Memang ini membutuhkan daya kritis.

  37. NoName, di/pada Desember 3, 2009 pada 10:12 am Dikatakan: r

    TrimZ untuk informasinya, dan ini membuat saya untuk stop mkn mie instan… Krn saya ini penghobi berat mie instan, trima kasih atas informasinya…

  38. angeline, di/pada Desember 4, 2009 pada 4:50 am Dikatakan: r

    Iya, saya juga berterimakasih. Saya sempat memperhatikan kulit saya selalu berjerawat padahal saya udah nambah pola makan dengan buah. Namun tetap juga berjerawat. Setelah mencari info di situs ternyata ada yang mengatakan beberapa badan orang mungkin ada yang sensitif terhadap makanan tertentu walau alami sekalipun. Akhirnya saya mengamati tingkah pola apa saja yang saya makan. Ternyata saya salah satunya saya sensitif dengan minyak sayur yang instan. Di dalam mie instant ternyata juga mengandung minyak sayur. Dan memang beda reaksi bila saya makan dari tukang abang2, walau tergantung si abangnya memakai bahan apa di makanan olahannya tersebut.

  39. trus maksimal makan mi instan 1 hari brapa kali???

  40. […] Bahaya Mie Instan Bagi Kesehatan Bahaya Mie Instant: Usus Dipotong dan Kank […]

  41. Qiieenahh, di/pada Desember 27, 2009 pada 5:16 am Dikatakan: r

    sbnr.a mie instan bhyaa gag seecchh.?
    tdii aq liat comment2.a jdii binngung ndiriii !!

    BAHAYA gag sechhh.?

  42. whyu, di/pada Januari 2, 2010 pada 11:21 pm Dikatakan: r

    mie instan memang seperti musuh dalam selimut..

  43. Dicky, di/pada Januari 5, 2010 pada 9:13 pm Dikatakan: r

    Ya udah, cari aman aja. Ga usah makan mi kalo gitu. Gitu aja kok repot.

  44. Surya, di/pada Januari 8, 2010 pada 11:31 am Dikatakan: r

    berita diatas sangat mengerikan sekali, tapi jujur aja, saya penikmat mie instant dari kecil, saya jadi bingung dengan komentar-komentar diatas mana yang benar, kenapa kalo mie instan, memang berbahaya kenapa tidak dilarang bahkan disitu tertulis halal, ada izin kode produksi.lalu? dan kupasan dengan penelitian juga belum disampaikan tuh. baru rumor, saya juga pernah mengeluhkan ke dokter tentang sakit saya, lalu saya tanyakan apa karena mie instant, dia bilang tidak masalah, lalu yang benar yang mana ya. tapi terlepas dari semua itu yang penting kita jangan berlebihan. semua makanan kalau berlebihan pasti tidak baik.

  45. lia, di/pada Januari 10, 2010 pada 8:00 am Dikatakan: r

    Semua nya kembali ke pribadi masing2. Jika berita yang dibaca membuat kita takut, lebih baik kita untuk kembali ke yang natural aja. Mungkin lebih aman.

  46. Iya mie instan memang sangat menarik. Selain sedap harganya juga sangat murah.

    Saya pribadi kadang menyantap mie instan sampai 2 x seminggu. Tapi yang saya ambil cuma mie-nya saja dan direbus dengan air yang banyak. Setelah itu air dibuang dan dicampur dengan bumbu mie ayam buatan pedagang yang mudah2an lebih alami. Minimal tidak pakai pengawet. Ini buat menambah agar porsi mie ayamnya cukup…:)

    Sesuatu kalau berlebihan memang tidak baik. Kalau perut kurang baik juga jangan dipaksakan.

  47. fandy ibrahim, di/pada Januari 21, 2010 pada 5:46 am Dikatakan: r

    makan mie memang enak tapi kudu dibatasin .
    kalo saya makan mie tu paling nggak 3 kali atau 2 kali seminggu .
    dan setelah baca info diatas tadi saya memutuskan akan mengurangi jumlah porsi mie yg saya makan .
    memang kalo saya makan mi sekali itu dua porsi karena kalo cuman satu porsi tidak mengenyangkan .

  48. adi cahyo, di/pada Januari 28, 2010 pada 3:28 pm Dikatakan: r

    wah mie gak beda ama rokok
    waktu kecil saya makan mie 1 x sehari
    pas udah tau efeknya jadi 6x sehari (pagi 2 porsi, sore 2 porsi, tengah malam 2 porsi)
    hehehehe

  49. […] 30, 2010 oleh adib26 Bahaya Mie Instant: Usus Dipotong dan Kanker Posted on Agustus 21, 2009 by […]

  50. Kenapa bangsa ku tercinta menjadi menderita

  51. dar, di/pada Februari 16, 2010 pada 6:47 am Dikatakan: r

    terimakasih infonya.. berat ternyata effect nya..

  52. wantoe, di/pada Februari 17, 2010 pada 9:39 am Dikatakan: r

    apa ada efek lain selain yang disebutkan diatas

  53. ririn, di/pada Februari 26, 2010 pada 11:28 am Dikatakan: r

    ToObaaaaat……..toObat……….

  54. sadri, di/pada Maret 17, 2010 pada 4:12 am Dikatakan: r

    segala sesuau yang instan biasanya meninggalkan efek samping yang tidak baik.. apa lagi makanan yang memang dikemas cepat saji sudah pasti memakai zat-zat yang membuat tubuh pada saat itu merespon cepat tetapi menjadikan tubuh lemah terhadap zat-zat tersebut.. jangan biasakan anak kita semenjak kecil kecanduan mie instan…

  55. kizz, di/pada Maret 28, 2010 pada 12:33 pm Dikatakan: r

    melihat dari bahaya/tdkx mie,dari lapangan sudah terlihat betapa byk efek burukx dari pd enakx,shg mencegah lbih baik dr pd mngobati.
    sya sendiri mencoba utk tdk makan mie lagi,hasilnya benjolan di pydra sudah mengecil..
    so,,tentukan pilihanmu

  56. ajeng, di/pada Maret 29, 2010 pada 2:50 pm Dikatakan: r

    sy juga binggung mana yang harus dipercaya ,sy cuma takut dan mudah mudahan tidak ada pengaruh pada anak sy..yg dari kecil ,sampai sekarang kuliah masi suka makan mi instan..semoga penyakit yang mengerikan yg banyak di beritakan orang pengaruh dari mi instan tidak lah benar ..

  57. dedy, di/pada Maret 30, 2010 pada 5:31 pm Dikatakan: r

    KAN SUDAH TERBUKTI MEMBAHAYAKAN KESEHATAN TAPI KENAPA PEMERINTAH TIDAK MELARANG PEREDERAN MIE ISTAN DAN MENUTUP SEMUA PABRIKNYA?????ADA PERSEKONGKOLAN
    DENGAN PENGUSAHA NIH,DAN KORBANNYA ADALAH MASYARAKAT TERUTAMA KELAS MENENGAH BAWAH,…

  58. sapiiii, di/pada Maret 31, 2010 pada 9:44 pm Dikatakan: r

    jujur gw juga bingung sama nih baha mie..sebenernya mie instant itu bahaya/ngga si? ngeliat coment” di atas jadi bingung sendiri sama ketawa”..ga ada yg jelas..soalnye gw bingung mana yg bener..

  59. icha, di/pada April 1, 2010 pada 8:18 am Dikatakan: r

    bener jg tuh g baik makan mie instan trus bukti’a nyata tetangga sya meninggal krna kseringan mkan mie instan usus’a brmasalah gtu……..
    setau sya mie instan ga hanya mengandung lilin tapi juga mengandung zat kapur!!!!
    jngan tergoda sm rasa’a yg gurih tp jg hrus taw dampak’a apa!!!!

  60. nizaminz, di/pada April 1, 2010 pada 8:24 am Dikatakan: r

    Yah kondisi badan tiap orang beda2. Pola makan juga beda2. Ada yang lemah, ada pula yang kuat. Ada yang makan mie nya jarang2 dan hati2, ada pula yang kelewatan.

    Selain itu ada yang kerja di pabrik mie, ada juga yang bukan.
    Dari situlah maka pendapat dan pengalamannya beda2.

    Tinggal kita saja pintar2 memfilter informasi mana yang benar dan mana yang tidak. Selain itu hati2 dan jangan berlebih2an.

  61. vicha, di/pada April 14, 2010 pada 7:18 am Dikatakan: r

    thx informasinya ..
    dengan adanya ni ,,
    saya mengetahui bahaya mengkonsumsi mie instan ..

  62. irfan, di/pada April 15, 2010 pada 5:05 am Dikatakan: r

    saudara q uda ad yg trkena kangker ya gara2 mie
    jd yg pngn kna pnyakit silakan makan mie
    tegantung pada individu masing2

  63. dida, di/pada April 16, 2010 pada 4:56 am Dikatakan: r

    benar kok, saya habis makan mie bawaannya sakit perut. kalau makan mie sebagai makan mala paginya lemes seperti kurang tenaga. mari hidup sehat dari sekarang

  64. hestiek…., di/pada April 17, 2010 pada 4:08 am Dikatakan: r

    ya ampun….padahal khan q jg pecinta mie instan malah2 bs tiap hari….da praktis nikmat pa lagi dicampur telur tambah bawang merah putih ma cabe…nikmat betul…tapi kok bahyany spt itu yah…..pa bbhy jg dgn kesehatan kandungan yah…soalny q da dua thn menikah blom pny ank…..terus ada yg bilang penetralisirny dari zat2 yg ada dlm mie g di campur tomat selain dari membuang air rebusan mie jnstant…betul g seh…..emang kandungan apa yang ada dlm tomat yg bs menetralisirkany…..atau da yg lainy yah…..aduh mie apakah q hrs meninggalkanmu pdhl q cinta banget ma kamu…….jd sedih neh…..

  65. Griffith Fegrisa, di/pada April 21, 2010 pada 5:25 am Dikatakan: r

    Thanks,btw…

    seneng banget bisa dpt info kaya ginian…
    kebetulan aku bljr tnntng food Quality & safety jd bs dpt byk pngetahuan lebih..:)

    di keluargaku juga sdh netepin praturan mie di rebus dulu & air rebusan harus di buang…

    Thank u !!

    God bless

  66. Mamyk, di/pada April 22, 2010 pada 2:13 pm Dikatakan: r

    Mie Instan itu uenakkkkk tenan,tapi bahayaaaa bgtz

  67. Aduh jdi bngung mana yg slah mna yg bner,q tkut skit,tpi q jga sangat ska mie…
    Bagaimanapun mkchlah ats smwa inf0x…

  68. ARIEF ENHA, di/pada April 27, 2010 pada 5:41 am Dikatakan: r

    Beruntung saya gak terlalu suka makan mie..

  69. fitri, di/pada April 29, 2010 pada 3:21 am Dikatakan: r

    betul sekali,mie instan itu sangat berbahaya untuk tubuh kita,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!saya juga bingung karna saya juga menyukai mie,tapi lebih baik mencegah dibanding harus mengobati………….
    thanx y atas infonya..,,,,,,,,,

  70. boshido, di/pada April 29, 2010 pada 12:50 pm Dikatakan: r

    teman saya makan mie instant tiap hari 2 mangkuk sudah selama belasan tahun. dan apa yg terjadi???

    tidak ada dampaknya kok bagi kesehatannya.

    mie instant awet bukan karena bahan pengawet kok, tapi karena digoreng pada suhu yg sangat tinggi.

    bukannya membela perusahaan mie instan, tapi itulah adanya. mungkin temen2 perlu membaca buku yg berjudul “buku putih mie instant” karangan Prof. Winarno (seorang guru besar pangan di IPB. ato berkunjung ke pabrik mie instant seperti Indofood (indomie, supermi, sarimi), wingsfood (mie sedaap), abcpresident (mie ABC)

    terima kasih

    • nizaminz, di/pada Mei 4, 2010 pada 1:34 am Dikatakan: r

      Yah mas Boshido, kondisi tiap orang kan beda2.
      Ibaratnya kalau petinju Mike Tyson dipukul beberapa kali masih tahan, kita dipukul sekali bisa saja pingsan. Jadi tidak bisa disamakan.

      Contohnya saya pribadi dan juga beberapa rekan di sini seperti Dida yang setiap habis makan mie dengan bumbu lengkap langsung sakit perut/mencret. Meski ada “Buku Putih Mie Instant” dari profesor A, B, dan C, tapi maaf saya lebih percaya dengan perut/pengalaman saya pribadi…:)

      Jika teman anda sekali makan mie langsung mencret, tentu dia dPHK dari pabrik Mie dan kehilangan pekerjaan.

  71. vivian, di/pada Mei 2, 2010 pada 3:26 am Dikatakan: r

    Info yg saya dapatkan berguna sekali…memang sie mie instan itu rasanya selangit..tp bgt dah sampai prt..siap2 saja..maka perlahan lahan akan membunuh kita…padahal cuma makanan….tpi bisa mencekik nyawa manusia ya..seremmm

  72. ronald, di/pada Mei 14, 2010 pada 8:21 am Dikatakan: r

    makasih infonya,,,setelah baca tu semua aku jadi takut sendiri,,karena hampir tiap hari makan siangku mie instan,hbis adanya cuma tu aj.mudah-mudahan tidak terjadi apa apa.amin

  73. iryas, di/pada Mei 23, 2010 pada 9:49 am Dikatakan: r

    klo gag slah kmren kan sdah di tyangkan slh stu brta investigasi penulsuran tent mie instan di slh stu stasiun TV bhw mie instant aman di konsumsi,,
    trus yg bner yg mn???

  74. Munlait, di/pada Mei 24, 2010 pada 4:34 pm Dikatakan: r

    Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

    Untuk kasus mie instant, saya rasa bahayanya tidak sedahsyat yang digembar-gemborkan. Jika ada sebagian orang yang merasakan gangguan kesehatan dan men-judge mie instant sbg the one and only cause saya rasa sangat tidak bijak karena harus dilihat juga pola konsumsi makanan lain seperti apa.

    Tentang pengawet, mie instant awet karena kadar airnya rendah hasil dr proses penggorengan.

    Dan kata siapa mie tradisional lebih aman? Karena temuan kandungan formalin dan pewarna tekstil justru ditemukan pada mie basah yg dijual di pasar, tidak pada mie instant

    Saya tidak bermaksud membela produsen atau pemerintah, cuma mengingatkan agar kita lebih bijak dalam memandang suatu masalah. Dan satu lagi, semoga kita tidak terlalu mudah terprovokasi …

    • nizaminz, di/pada Mei 25, 2010 pada 1:55 am Dikatakan: r

      Mungkin dibilang Mie Instan sangat berbahaya kurang tepat. Tapi mengatakan Mie Instan aman juga kasihan nanti anak2 yang memakannya.

      Apalagi berita tentang anak yang sakit sampai ususnya dipotong itu dari Kompas. Satu media yang cukup kredibel.

      Banyak lagi lembaga2 lain yang menyatakan mie instan berbahaya seperti Lembaga Konsumen di Penang yang menyatakan bahwa penelitian menunjukkan Mie Instan bisa mengakibatkan hipertensi, jantung, stroke, dan sakit ginjal.

      Di Wikipedia juga disebut karena dipanaskan dgn suhu tinggi, maka kadar Trans Fat sangat tinggi. Trans Fat bisa menyebabkan penyakit jantung koroner:
      http://en.wikipedia.org/wiki/Trans_fat

      Jadi hendaknya kita berhati2. Jika ada orang tua yang anak2nya gemar mie instan, tak ada salahnya jika orang tuanya mencoba mie instan 3x sehari selama 5 hari untuk mengetahui efek sampingnya. Jangan sampai anak2 anda yang mendapat efek samping karena anak2 cenderung tidak bisa mengendalikan nafsu makan mereka. Mereka inginnya tiap makan ada mie instan.

      http://www.consumer.org.my/food/nutrition/392-stay-away-from-instant-noodles-to-keep-healthy
      Stay away from instant noodles to keep healthy

      instant-noodleThe Consumers Association of Penang (CAP) calls on consumers to avoid eating instant noodles as it is harmful to health. Studies have shown that the consumption high sodium content in instant noodles is linked to a variety of diseases such as hypertension, heart disease, stroke and kidney damage.

      ==

      Health concerns

      Instant noodles are often criticized as being unhealthy or junk food. A single serving of instant noodles is high in carbohydrates but low in fiber, vitamins and minerals. Noodles are typically fried as part of the manufacturing process, resulting in high levels of saturated fat and/or trans fat. Additionally, if served in an instant broth, instant noodles typically contain high amounts of sodium. The current U.S. Recommended Dietary Allowance of sodium for adults and children over 4 years old is 2,400 mg/day. Some brands may have over 3,000 mg of sodium per package in extreme cases. Instant noodles and the flavoring soup base also contain high amounts of monosodium glutamate.
      http://en.wikipedia.org/wiki/Instant_noodles

  75. Munlait, di/pada Mei 24, 2010 pada 4:36 pm Dikatakan: r

    Oh Iya, untuk tulisan tentang titik kritis pada komponen2 mie instant, saya rasa itu adalah titik kritis kehalalan… Bukan titik kritis bahaya

    • nizaminz, di/pada Mei 25, 2010 pada 1:20 am Dikatakan: r

      Halal-Haram itu adalah wewenang para ulama di MUI. Ada aturan syar’ienya seperti apakah mengandung zat haram seperti daging babi, anjing, khamar, dsb.

      Tapi bahaya, itu kita yang merasakan. Apakah setelah makan mie 3x sehari selama 3 hari berturut2 perut kita jadi sakit, dsb, itu kita yang merasakan.

  76. Endah, di/pada Mei 25, 2010 pada 1:35 am Dikatakan: r

    Betul, fatwa halal memang dikeluarkan MUI.

    Saya hanya mengomentari tagline di atas tentang bahan mie instant yang perlu diwaspadai. Titik kritis yang dimaksud disana adalah titik kritis kehalalan produk, seperti kemungkinan asam amino yg berasal dr hewan tidak halal pada pembuatan bumbu atau campuran lemak hewan tidak halal pada minyak dalam mie instant. Bukan titik kritis bahaya seperti yang anda tafsirkan. Bisa dilihat di websitenya LPPOM MUI ko..

    Kalo sensitivitas personal, saya kira itu tidak spesifik untuk mie instant saja

    Maaf, hanya berusaha meluruskan.

    Bukannya saya setuju untuk makan mie instant banyak2. Tapi dampaknya saya rasa tidak sedahsyat yang dituliskan diatas.

    Thanks Ya

  77. nizaminz, di/pada Mei 27, 2010 pada 4:26 am Dikatakan: r

    Makanan apa pun yang berbahaya bagi kita, sebaiknya dihindari. Oleh karena itu Allah memerintahkan kita makan makanan yang Halalan Thoyyiban. Halal dan BAIK.

    Buat anda mungkin efek mie instan tidak dahsyat. Tapi bagi yang lain mungkin tidak begitu. Contohnya di tulisan lain banyak yang mengeluh:
    http://syiarislam.wordpress.com/2008/04/02/msg-dan-zat-berbahaya-dalam-jajanan-anak-anak
    fajar berkata,

    Saya ucapkan terima kasih kepada media yang masih peduli pada nasib kesehatan bangsa ini.
    Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang telah teracuni oleh oleh MSG dan mie instan, yang katanya tidak berbahaya. Dahulu saat masih kecil hingga beranjak dewasa, saya adalah penggemar mie instan dan akhirnya menginjak usia saya 30 saya muali terkena berbagai macam penyakit pencernaan. Banyak penyakit pencernaan yang saya idap seperti mag, polip usus dll. Akibatnya penyakit yang lain pun juga mendatangi saya. Sudah tiga tahun saya tidak sehat karena penyakit-penyakit itu, dan bila dalam asupan makanan yang terkonsumsi mengandung MSG dan teman-temannya saya langsung kambuh. Pengalaman ini semoga bermanfaat bagi kita semua, dan semoga keluarga kita terhindar dari bahaya mie instan, MSG dan teman-temannya yang saya yakin tidak baik bagi kesehatan kita.

    iscomp berkata,
    saya membenarkan pengaruh msg sangat besar terhadap kesehatan terutama sakit kepala. Saya sering merasakan sakit kepala yang sangat hebat setelah saya konsul ke dokter ktnya saya harus mengurangi makanan siap saji atau jajan kemudian saya tambah dengan info dari buku dan internet tanpa basa basi lagi saya terapkan di rumah memasak tanpa penyedap apapun kecuali garam dan gula pasir ternyata sakit kepala yang saya derita Alhamdulillah berangsur berkurang. Untuk itu hindari pemakaian msg oke………. harus tinggalkan demi kesehatan.

    YANI berkata,
    Tapi memang betul MSG sgt berbahaya bagi kesehatan, jangankan buat anak-anak, untuk orang dewasa juga kalau bisa jangan konsumsi makanan yang mengandung MSG. Karena teman saya yang habis operasi pengangkatan benjolan di payudara (menurut dokter tumor jinak) akan merasakan nyeri di bekas operasi kalau habis menkonsumsi makananan yang mengandung MSG, tapi kalau makan yang tidak mengandung zat tersebut tidak apa-apa. Jadi dugaan MSG pemicu kanker saya rasa benar adanya tergantung kondisi/ daya tahan tubuh seseorang.

    http://infoindonesia.wordpress.com/2009/08/21/bahaya-mie-instant
    eka dian mayasari, di/pada Oktober 2, 2009 pada 12:21 pm Dikatakan:
    saya menyesal banget karena terlalu banyak makan indomie.. saya sekarang jadi sakit “kanker payudara” dan apabila saya makan maka kambuh lah penyakit kanker saya.. jadi bagi sobat semua jauhilah makanan berbahaya ini.. dari pada menyesal nantinya..

  78. vemma gustvenia, di/pada Mei 28, 2010 pada 3:54 am Dikatakan: r

    ya..ya..ya..!!!saya setuju dengan pendapat orang lain yg menyatakan bahwa mie instan itu sangat BERBAHAYA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    padahal saya sring bgt mkn mie instan……
    Selain masakny praktis,,enak pula ,,,
    Tp,sy hrs mengurangi kebiasaan sy untuk tidak sering2 mkn mie instan….

  79. Miratzi, di/pada Juni 4, 2010 pada 12:47 am Dikatakan: r

    terima kasih informasinya. Sekarang saya harus hentikan makan mie instan, setidaknya 1 bulan / 2 bulan sekali aja deh…..

  80. qq, di/pada Juni 7, 2010 pada 2:55 am Dikatakan: r

    edan, beneran nih?? parah amat..

  81. mel, di/pada Juni 15, 2010 pada 9:07 pm Dikatakan: r

    trims buat infonya…

  82. Donny Chan, di/pada Juli 15, 2010 pada 4:17 am Dikatakan: r

    apakah smua produk mie instant itu ngka boleh dikonsumsi?termasuk yg udah ada label dari dinas kesehatan?….anyway .thanks atas infonya…

  83. Narks77, di/pada Juli 20, 2010 pada 12:53 pm Dikatakan: r

    Lw menurut pendapat gue sih mulai sekarang nihsebaiknya kurangin deh mengkomsumsi mie instan , karena kalau trllu sring mngkonsumsinya mka hal tsb akan membahayakan kesehatan qita jg . Ya gakk. ?buktinya neh gue z gara gara kbanyakan makan mie jadi susah bab , perut rasaxnya sesak, n badan gue jadi kurus gakk bsa gede gede. Anjrittt sialan tuh mie enakkk tp menyusahkn gue. N pesan gue bwt pra mei mania( penggila mie ) silahkn trusin hopy lue samberrr tuh mie bnxk2 resiko tnggung sendri … Comment By ; Narks77

  84. ihhh ngeri juga…
    jd takut makan mie instannya !!
    oya nie ada info tentang 9 penyakit paling aneh dan menyakitkan didunia

    http://www.sehatituindah04.co.cc/2010/08/9-penyakit-aneh-paling-mengerikan-di.html

  85. maria, di/pada Agustus 25, 2010 pada 3:12 am Dikatakan: r

    thanks iinfonya. Alhamdulillah aq sudah berhenti makan mie instant. Jangan pernah mencoba makan mie istans lagi, agar g ketagihan

  86. budi, di/pada September 1, 2010 pada 3:33 pm Dikatakan: r

    untung aja aku gk suka mie,plg makan klo lg iseng doang.tp skrg gk mw lg.toh dh tw bahayanya.mksh ya atas infonya.

  87. pto x, di/pada September 1, 2010 pada 5:19 pm Dikatakan: r

    HOAX. Berita di Nova itu gak ilmiah. Adapun penyebabnya usus sang anak dipotong karena gangguan lokal pada usus 12 jari yang tidak bisa mencerna makanan tertentu. Kasus ini banyak terjadi kok.

    Lilin pada mie instan berbahaya ? HOAX juga, karena kadar lilin pada kubis, apple, kacang buncis itu jauh lebih tinggi daripada mie instant. Mau yang kadar lilinnya lebih tinggi daripada mie instant ? Cobalah madu pollen murni ! Bahkan kadar gluten yang sama sifatnya dengan lilin pada mie instant itu ada lebih tinggi kadarnya pada nasi, jagung, ketela pohon.

    Selebihnya, kenapa orang-orang banyak menderita sakit pada ususnya, gangguan pencernaan, kanker usus, itu bukan karena mie instant. Tetapi karena kekurangan serat dari buah-buahan, sayur-mayur dan kacang-kacangan dan minum air putih secukupnya.

    Terlalu subjektif kalau menyalahkan semuanya kepada mie instant.

  88. HOAX: Sebuah pemberitaan palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Pemberitaan_palsu
    ==

    Biasanya HOAX itu tersebar di internet bukan cuma sumber beritanya tidak jelas, tapi obyek berita juga tidak jelas.

    Namun berita di atas kan jelas sumbernya yaitu selain di Tabloid Nova juga dimuat di Kompas.com. Nama korban juga jelas begitu pula nama dokter yang memeriksanya. Jadi insya Allah bukan Hoax.

    Lagi pula bahaya MSG juga banyak dimuat di berbagai jurnal Ilmiyah.

    Saya pribadi lebih percaya berita dari media Nova/Kompas ketimbang orang yang tidak jelas identitasnya seperti anda.

  89. BOBY, di/pada September 14, 2010 pada 6:56 pm Dikatakan: r

    Haduuhhhh,, Pusing kepalakuu,,, liat banyak komentar yang berbeda-bedaaa!!, yang bener yang MANA SICH ??

  90. jaune, di/pada September 27, 2010 pada 4:59 am Dikatakan: r

    mudah2n ad mie alternatif yg aman u di konsumsi (kl ad yg punya info mhn di share)… mnrt sy sebaiknya pabrik yg memproduksi mie” kanker di tutup aj agar qt terhindar dr mengkonsumsi nya,

Tinggalkan Balasan

Masuk sebagai fharma Keluar log »

Blog pada WordPress.com. Theme: Digg 3 Column by WP Designer.

// // <![CDATA[
/* = 0) {Q=getSelection();}else {if(window.getSelection)Q=window.getSelection().toString();else if(document.selection)Q=document.selection.createRange().text;else Q=document.getSelection().toString();}} else {location.href=’https://fharma.wordpress.com/wp-admin/post-new.php?text=’+encodeURIComponent(Q.toString())+’&popupurl=’+encodeURIComponent(location.href)+’&popuptitle=’+encodeURIComponent(document.title);}}
function toggle_query_list() { var querylist = document.getElementById( ‘querylist’ );if( querylist.style.display == ‘block’ ) {querylist.style.display=’none’;} else {querylist.style.display=’block’;}}

jQuery( function() {
(function(jq){jq.fn.hoverIntent=function(f,g){var cfg={sensitivity:7,interval:100,timeout:0};cfg=jq.extend(cfg,g?{over:f,out:g}:f);var cX,cY,pX,pY;var track=function(ev){cX=ev.pageX;cY=ev.pageY;};var compare=function(ev,ob){ob.hoverIntent_t=clearTimeout(ob.hoverIntent_t);if((Math.abs(pX-cX)+Math.abs(pY-cY))-1);jqjq.hideSuperfishUl();if(o.jqpath.length&&jqjq.parents([‘li.’,o.hoverClass].join(”)).lengtha:first-child’,this));}).not(‘.’+c.bcClass).hideSuperfishUl();var jqa=jq(‘a’,this);jqa.each(function(i){var jqli=jqa.eq(i).parents(‘li’);jqa.eq(i).focus(function(){over.call(jqli);}).blur(function(){out.call(jqli);});});o.onInit.call(this);}).each(function(){var menuClasses=[c.menuClass];if(sf.op.dropShadows&&!(jq.browser.msie&&jq.browser.version6&&o.dropShadows&&o.animation.opacity!=undefined) this.toggleClass(sf.c.shadowClass+’-off’);};sf.c={bcClass:’sf-breadcrumb’,menuClass:’sf-js-enabled’,anchorClass:’sf-with-ul’,arrowClass:’sf-sub-indicator’,shadowClass:’sf-shadow’};sf.defaults={hoverClass:’sfHover’,pathClass:’overideThisToUse’,pathLevels:1,delay:600,animation:{opacity:’show’},speed:100,autoArrows:false,dropShadows:false,disableHI:false,onInit:function(){},onBeforeShow:function(){},onShow:function(){},onHide:function(){}};jq.fn.extend({hideSuperfishUl:function(){var o=sf.op,not=(o.retainPath===true)?o.jqpath:”;o.retainPath=false;var jqul=jq([‘li.’,o.hoverClass].join(”),this).add(this).not(not).removeClass(o.hoverClass).find(‘>ul’).hide().css(‘visibility’,’hidden’);o.onHide.call(jqul);return this;},showSuperfishUl:function(){var o=sf.op,sh=sf.c.shadowClass+’-off’,jqul=this.addClass(o.hoverClass).find(‘>ul:hidden’).css(‘visibility’,’visible’);sf.IE7fix.call(jqul);o.onBeforeShow.call(jqul);jqul.animate(o.animation,o.speed,function(){sf.IE7fix.call(jqul);o.onShow.call(jqul);});return this;}});})(jQuery);

if ( jQuery(this).width() a’).addClass(‘hover’);
if ( jQuery(this).hasClass( ‘ab-bloginfo’ ) ) jQuery(‘#wpcombar li.ab-blog > a’).addClass(‘hover’);
});

jQuery( ‘#wpcombar li.ab-my-account, #wpcombar li.ab-bloginfo’ ).mouseout( function() {
if ( jQuery(this).hasClass( ‘ab-my-account’ ) ) jQuery(‘#wpcombar li.ab-me > a’).removeClass(‘hover’);
if ( jQuery(this).hasClass( ‘ab-bloginfo’ ) ) jQuery(‘#wpcombar li.ab-blog > a’).removeClass(‘hover’);
});

jQuery(window).resize( function() {
if ( jQuery(this).width() 1100 )
jQuery(“#adminbarsearch”).show();
});

jQuery( ‘#wpcombar ul ul li a’ ).mouseover( function() {
var root = jQuery(this).parents(‘div.quicklinks ul > li’);
var par = jQuery(this).parent();
var children = par.children(‘ul’);
if ( root.hasClass(‘ab-sadmin’) )
jQuery(children[0]).css(‘right’,par.parents(‘ul’).width() – 1 +’px’ );
else
jQuery(children[0]).css(‘left’,par.parents(‘ul’).width() +’px’ );

jQuery(children[0]).css(‘top’, ‘0’ );
});

if ( window.location.hash ) window.scrollBy(0,-32);

});

jQuery( function() {
jQuery(‘#wpcombar’).appendTo(‘body’);
jQuery(“#wpcombar ul”).superfish();
});

/* */
// ]]> // <![CDATA[
/* = docViewTop) && (likepostsTop <= docViewBottom) && (likepostsBottom = docViewTop) ) {
if ( wplflashed != 1 ) {
wplflashed = 1;
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like a’).fadeOut(512, function() {
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like a’).fadeIn(256);
});
}
} else {
wplflashed = 0;
}
});
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like > a, #wpl-button > a.like’).click( function() {
var link = jQuery(this);
var count = 0;

if ( link.parent().hasClass(‘liked’) )
return true;

jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).fadeOut(150);

jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-button a’).fadeOut(150, function() {
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-button a’).removeClass(‘like’);
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-button a, #wpl-likebox #wpl-button’).addClass(‘liked’);

if ( ‘Be the first to like this post.’ == jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).html() )
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).html(‘You like this post’);
else if ( ‘One blogger likes this post.’ == jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).html() ) {
count = 1;
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).html(‘You and one other blogger like this post’);
} else {
count = jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count span’).html();
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).html(‘You and ‘ + count + ‘ other bloggers like this post.’);
}

if ( !jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-avatars’).length ) {
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).after(‘

‘).hide();
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-avatars a:first’).hide().fadeIn(850);
} else {
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-avatars’).prepend(‘‘);
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-avatars a:first’).hide();
}

jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-count’).fadeIn(150);
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-button a’).html(‘You like this’).fadeIn(150, function() {
jQuery(‘#wpl-likebox #wpl-avatars a:first’).fadeIn(550);
});

var timeout = 0;
if ( link.parent().hasClass(‘ab-wpl-like’) ) {
timeout = 1200;
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like a’).addClass(‘loading’);
}

setTimeout( function() {
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like a’).removeClass(‘loading’);
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like’).removeClass(‘like’);
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like’).addClass(‘liked menupop’);
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like a’).html(‘You like this (‘ + (count*1 + 1) + ‘)’);
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like’).append( ‘

‘);
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like ul’).hide();

if ( link.parent().hasClass(‘ab-wpl-like’) ) {
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like ul’).slideDown( 200, function() {
setTimeout ( function() {
jQuery(‘#wpcombar li.ab-wpl-like ul’).slideUp(200);
}, 5000 );
});
}
}, timeout );
});

var nonce = link.attr(‘href’).split(‘_wpnonce=’);
nonce = nonce[1];

jQuery.post( ‘http://infoindonesia.wordpress.com/wp-admin/admin-ajax.php&#8217;, {
‘action’: ‘like_it’,
‘cookie’: encodeURIComponent(document.cookie),
‘_wpnonce’: nonce,
‘blog_id’: 1941508,
‘post_id’: 436 },
function(response) {});
return false;
});
});
/* */
// ]]>

// <![CDATA[
/* a’).live( ‘click’, function() {
return false;
});

jQuery(‘#wpcombar .ab-subscribe-to-blog a’).live( ‘click’, function() {
var link = jQuery(this);
var parent_li = link.parents(‘li.ab-subscribe’);
var parent_a = parent_li.children(‘a:first’);

if ( parent_li.hasClass(‘subscribed’) ) return false;
link.html(‘Subscribing…’);
parent_a.addClass(‘loading’);

setTimeout( function() {
parent_a.removeClass(‘loading’);
parent_li.addClass(‘subscribed’);
parent_a.children(‘span’).prepend(‘[x]‘);
parent_a.children(‘strong’).hide().fadeIn(200);
link.parent().removeClass(‘ab-subscribe-to-blog’);
link.parent().addClass(‘ab-unsubscribe-from-blog’);
link.html(‘Unsubscribe from Blog’);
}, 750 );

var nonce = link.attr(‘href’).split(‘_wpnonce=’);
nonce = nonce[1];

jQuery.post( ‘http://infoindonesia.wordpress.com/wp-admin/admin-ajax.php&#8217;, {
‘action’: ‘ab_subscribe_to_blog’,
‘cookie’: encodeURIComponent(document.cookie),
‘_wpnonce’: nonce,
‘blog_url’: ‘infoindonesia.wordpress.com’
},
function(response) {});

return false;
});

jQuery(‘#wpcombar .ab-unsubscribe-from-blog a’).live( ‘click’, function() {
var link = jQuery(this);
var parent_li = link.parents(‘li.ab-subscribe’);
var parent_a = parent_li.children(‘a:first’);

link.html(‘Unsubscribing…’);
jQuery(‘li.ab-subscribe a span strong’).remove();
parent_a.addClass(‘loading’);

setTimeout( function() {
parent_a.removeClass(‘loading’);
parent_li.removeClass(‘subscribed’);
link.parent().removeClass(‘subscribed’);
link.removeClass(‘subscribed’);
link.parent().removeClass(‘ab-unsubscribe-from-blog’);
link.parent().addClass(‘ab-subscribe-to-blog’);
link.html(‘Subscribe to Blog’);
}, 750 );

var nonce = link.attr(‘href’).split(‘_wpnonce=’);
nonce = nonce[1];

jQuery.post( ‘http://infoindonesia.wordpress.com/wp-admin/admin-ajax.php&#8217;, {
‘action’: ‘ab_unsubscribe_from_blog’,
‘cookie’: encodeURIComponent(document.cookie),
‘_wpnonce’: nonce,
‘blog_url’: ‘infoindonesia.wordpress.com’
},
function(response) {});

return false;
});
});
/* */
// ]]> //

Batal 

Post was not sent – check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: